Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Celana Jeans


Pernah tidak terlintas kenapa celana jeans selalu ada saku kecil di bagian sebelah kanannya? Selintas saku kecil ini tak ada fungsinya selain hanya tempelan untuk menambah aksentuasi gaya pemakainya, atau mungkin ciri khas celana jeans. Namun, dari saku imut-imut inilah sebenarnya bisa dibaca sejarah celana yang dipopulerkan oleh Levi Strauss tahun 1880 ini, delapan tahun setelah jeans masuk ke Amerika Serikat (AS) tahun 1872.


Sebagai jenis tekstil, jeans pertama kali dibuat di Genoa, Italia tahun 1560-an. Kain celana ini biasa dipakai oleh angkatan laut. Orang Prancis menyebut celana ini dengan sebutan "bleu de Génes", yang berarti biru Genoa. Meski tekstil ini pertama kali diproduksi dan dipakai di Eropa, tetapi sebagai fashion, jeans dipopulerkan di AS oleh Levi Strauss, seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang mengadu peruntungannya ke San Francisco sebagai pedagang pakaian. Ketika itu, AS sedang dilanda demam emas.

Akan tetapi, sampai di California semua barangnya habis terjual, kecuali sebuah tenda yang terbuat dari kain kanvas. Kain kanvas ini dipotongnya dan dibuatnya menjadi beberapa celana yang dijual pada para pekerja tambang emas. Dan ternyata para pekerja menyukainya karena celana buatan Strauss tahan lama dan tak mudah koyak. Merasa mendapat peluang, Strauss menyempurnakan "temuannya" dengan memesan bahan dari Genoa yang disebut "Genes", yang oleh Strauss diubah menjadi "Blue Jeans".

Di sinilah para penambang tambah menyukai celana buatan Strauss dan "menobatkan" celana itu sebagai celana resmi para penambang. Para penambang emas itu menyebut celana Strauss dengan "those pants of Levi`s" atau "Celana Si Levi". Sebutan inilah yang mengawali merek dagang pertama celana jeans pertama di dunia.

Naluri bisnis Strauss yang tajam membuatnya mengajak pengusaha sukses Jakob Davis untuk bekerja sama, dan pada tahun 1880 kerja sama itu melahirkan pabrik celana jeans pertama. Dan produk desain mereka yang pertama adalah "Levi`s 501".

Produk desain pertama memang dikhususkan bagi para penambang emas. Celana ini memiliki 5 saku, 2 di belakang dan 2 di depan, dan 1 saku kecil dalam saku depan sebelah kanan. Karena diperuntukkan bagi para penambang, saku ini tentu bukan untuk bergaya-ria. Tetapi saku imut-imut ini dirancang untuk menyimpan butiran-butiran emas yang berukuran kecil. Meski kini jeans diproduksi dalam berbagai merek dan bukan hanya untuk para penambang, tetapi saku imut-imut itu tetap ada. Tentu saja fungsinya bukan sebagai tempat menyimpan butiran emas.

sumber: http://www.strov.co.cc/2010/02/alasan-adanya-saku-kecil-pada-celana.html

Sir Charles Spencer Chaplin, Jr. KBE

Sir Charles Spencer Chaplin, Jr. KBE (lahir di East Street, Walworth, London, 16 April 1889 – meninggal di Vevey, Swiss, Swiss, 25 Desember 1977 pada umur 88 tahun), atau Charlie Chaplin, adalah aktor komedi Inggris yang merupakan salah satu pemeran film terkenal dalam sejarah Hollywood di era film hitam putih, sekaligus sutradara film yang sukses. Aktingnya di layar perak menjadikan Charlie Chaplin sebagai salah satu artis pantomim dan badut terbaik yang sering dijadikan panutan bagi seniman di bidang yang sama.

sejarah 1


Sejarah=Antropologi ?

Ilmu Sejarah dan Antropologi

Ilmu Sejarah dan Antropologi memiliki
hubungan yang cukup erat. Diantara keduanya ada beberapa kesamaan dan perbedaan
yang cukup jelas tersirat. Kedua hal tersebut dapat diketahui bila melihat
seluruh bagian ilmu Antropologi dan Sejarah.Cara semacam itu diperlukan karena
dalam ilmu Sejarah, Antropologi tidak dijelaskan sebagai asal muasal ilmu
tersebut dan dalam ilmu Antropolgi, ilmu Sejarah tidak mendapatkan tempat yang
khusus ataupun menjadi pedoman dalam penelitian antropologi. Oleh karena itu ,
penelusuran yang mendalam mutlak diperlukan untuk mengetahui ikatan antara ilmu
Antropologi dan Sejarah.

Apakah Ilmu Sejarah
Kata Sejarah berasal dari beragam bahasa.
Dalam bahasa Arab, kata Sejarah berarti Sjaratun yang artinya pohon. Menurut
bahasa Inggris, Sejarah berasal dari kata History yang artinya masa lalu.
Apabila diartikan menurut keduanya maka Sejarah berarti pengalaman masa
lalu.Pengalaman yang dimadsuk adalah peristiwa-peristiwa dalam ingatan manusia.
Berbagai peristiwa yang dialami seorang manusia di masa lalu merupakan asset
berharga bagi Sejarah untuk mencapai tujuan keilmuannya.Tanpa manusia dan
kemampuan menuangkan ingatannya , ilmu Sejarah tidak dapat menemukan titik
terang pada setiap aktvitivitas penelitiannya.
Manusia adalah unsur utama yang menjadi
perhatian para sejarahwan. Beragam aspek sosial, politik, ekonomi, maupun
geografis yang tercakup dalam kehidupan manusia menjadi bahan kajian seorang
sejarahwan. Penulisan sebuah karya sejarah yang benar akan memperlihatkan
manusia sebagai subyek dalam tiap narasi. Meskipun tidak menunjukkan
keseluruhan dimensi kehidupan manusia tapi sejarah tetap menjadi ilmu yang
mengutamakan manusia.
Dalam merekonstruksi masa lalu, ilmu
Sejarah mengenal adanya metode sejarah. Metode ini digunakan oleh sejarahwan
agar mampu merangkai dan menulis berbagai peristiwa di masa lalu secara
sistematis , kronologis, dan obyektif. Hal demikian dilakukan dengan
mengumpulkan, mengevaluasi, menverifikasi, serta mensitesiskan bukti-bukti
untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.Metode sejarah
merupakan kaidah dalam ilmu sejarah yang harus dipatuhi oleh sejarahwan.
Berbagai aturan serta pengertian di kaidah tersebut menjadi
prinsip untuk menulis sebuah karya sejarah yang benar dan ilmiah.

Sekilas Tentang Ilmu Antropologi
Kata Antropologi berasal dari dua kata
yaitu anthropos dan logos. Anthropos berarti manusia dan logos berarti ilmu.
Menurut arti keduanya, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia. Ilmu ini
bertujuan mamahami manusia dengan segala permasalahannya dan mencoba untuk
mengerti gambaran eksistensi manusia dari masa ke masa. Untuk itulah dalam
setiap generalisasi dan sintesis , para Antropolog (orang yang mendalami ilmu
antropologi) tidak pernah berhenti menjelaskan manusia dan perilakunya agar
diperoleh pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
Antropologi pada awalnya disebut dengan
etnologi. Etnologi berarti ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia. Etnologi
mulai berkembang di Eropa pada abad ke 16. Ilmu ini diciptakan dari kebiasaan
mencatat para petualang Eropa yang menjelajahi benua Asia dan Afrika.Memasuki
abad ke-20, Etnologi mulai berganti nama menjadi Antropologi. Ilmu Antropologi
ini sendiri terbagi-bagi menjadi Antropologi fisik dan Antropologi kebudayaan.
Keduanya tidak mengganti kedudukan manusia sebagai obyek.Akan tetapi, dalam
generalisasinya, baik Antropologi fisik dan budaya memiliki perbedaan yang
cukup jelas.
Antropologi fisik adalah ilmu bagian
Antropologi yang mempelajari manusia sebagai mahluk biologis secara sistematis.
Titik perhatian ilmu Antropolgi ialah manusia sebagai organisme biologis.
Antropologi fisik terbagi dalam dua jenis yaitu Paleoantropologi dan
Somatologi. Keduanya menitik beratkan kajian pada fisik manusia namun tetap
memiliki perbedaan pada arti dan ruang lingkup permasalahannya. Dalam
mempelajari asal usul manusia, Paleoantropologi menggunakan berbagai sisa
peninggalan manusia purba yang berasal dari jaman kuno. Hal tersebut berbeda
dengan Somatologi yang menekankan pada sumber-sumber tertulis dan hasil-hasil
penelitian terbaru untuk mengetahui jenis ras manusia di dunia.
Selain Antropologi fisik juga terdapat
jenis Antropologi budaya. Antropologi budaya adalah cabang ilmu Antropologi
yang mempelajari manusia sebagai mahluk sosial, yaitu manusia yang hidup dalam
kelompok masyarakat dan mendukung serta mengembangkan kebudayaan demi
kelangsungan hidupnya. Antropologi budaya juga mempelajari bagaimana manusia
mampu berkebudayaan dan mengembangkan kebudayaannya sepanjang masa.

Keterkaitan Ilmu Antropologi dengan Ilmu Sejarah
Integritas manusia sebagai obyek maupun
subyek dalam ilmu Antropologi dan Sejarah begitu kuat dan tidak terpisahkan.
Hal demikian menandai adanya hubungan antara kedua disiplin ilmu tersebut.
Hubungan ini memiliki perbedaan menurut paradigma yang berkembang pada
masing-masing ilmu. Pada ilmu Sejarah manusia memang menjadi perhatian namun
bukan berarti Antropologi mendominasi didalamnya. Ini dikarenakan prinsip serta metode pada ilmu Sejarah
sangat berbeda dengan ilmu Antropologi. Akan tetapi, dalam menjelaskan
permasalahan, ilmu Sejarah tetap mengedepankan manusia sebagai subyeknya sama
seperti Antropologi.
Dalam ilmu Sejarah , ilmu Antropologi
biasanya hanya digunakan sebagai pendekatan saja. Akan tetapi, dengan
menerapkan teori serta konsep Antropologi dalam menulis karya Sejarah,
sejarahwan akan memperoleh sebuah karya tulis yang komprehensif dan detail
dalam tiap gambarannya. Dengan demikian penulisan sebuah karya ilmu Sejarah
dapat dimajukan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Kuntowijoyo dalam bukunya
metodologi sejarah yang menyatakan bahwa ilmu sejarah dapat dimajukan dengan
mengubah filsafatnya, teorinya, metodologinya, dan metodenya.
Penggunaan ilmu Antropologi sebagai pendekatan dalam ilmu Sejarah
diantaranya dilakukan pada tahun 1970-an oleh Emanuele Le roy Ladurie
(sejarahwan Perancis) dengan karyanya Motallou dan Carlo Girreburg (sejarahwan
Italia) dengan karyanya The Chese and The Worms.Secara garis besar. Kedua karya
tersebut mengkhususkan analisa sumber dan permasalahan berdasarkan keyakinan
dalam ilmu Antropologi.Dengan demikian, kemunculan dua buku milik sejarahwan
tersebut semakin menguatkan bukti lainnya yang sama dalam menggunakan
pendekatan Antropologi sebagai pendekatan dalam menulis sebuah karya
Sejarah. 
Permasalahan-permasalahan Sejarah yang
memerlukan pendekatan ilmu Antropologi  tertuang dalam lembaga-lembaga di masyarakat,
pranata, sistem-sistem, dan kebudayaan . Aspek-aspek tersebut terungkap di satu
obyek yang sama yaitu artfact, sociofact, dan mentifact. Dengan demikian, ilmu
Antropologi sangat membantu sejarahwan untuk menguraikan dan memperoleh data
yang diperlukan. Ketiga fakta tersebut dapat diperoleh dengan mengandalkan
hasil-hasil penelitian Antropologi.

Kesimpulan
Ilmu sejarah dan Antropologi adalah dua
jenis ilmu yang berbeda. Ketidaksamaan diantara keduanya terlihat jelas dalam
ruang lingkup permasalahan, metode penelitian, sampai dengan generalisasi
permasalahan. Meskipun begitu bukan berarti tidak terdapat persamaan diantara
keduanya. Kecocokan antara ilmu Antropologi dan Sejarah terletak dalam
penempatan manusia sebagai obyek dan subyek kajiannya. Baik ilmu Sejarah maupun
Antropologi tidak lepas dari keberadaan manusia. Keduanya menghargai manusia
sebagai unsur utama dalam setiap penelitian.

Daftar Pustaka
Kartodirjo, Sartono.1992.Pendekatan Ilmu sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Kosim,E.1988.Metode
Sejarah :Asas dan Proses
.Bandung :Fakultas Sastra 
             Unviersitas Padjadjaran
Kuntowijoyo.1994.Metodologi Sejarah.Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya
Suhandi, Agraha.2004.Pokok-Pokok Antropologi : Suatu Pengantar.Bandung: 
             Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran

sejarah


Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah).
Umumnya sejarah atau ilmu sejarah diartikan sebagai informasi mengenai kejadian yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis.

BUDAYA BACSON-HOABINH dan DONG SON dan SA HUYNH 2


KEBUDAYAAN BACSON HOABINH dan DONGSON

Kebudayaan-kebudayaan Bacson Hoabin dan Dongson pada dasarnya mempresentasikan system kebudayaan dan letak geografis yang berbeda-beda. Bukti-bukti arkeologis menunjukan bahwa kebudayaan-kebudayaan ini berasal dari zaman Pleistosen akhir. Situs-situs yang menunjukkan bukti demikian ditemukan di wilayah utara Vietnam.

BUDAYA BACSON-HOABINH dan DONG SON dan SA HUYNH 1


BUDAYA BACSON-HOABINH
§ Diperkirakan berasal dari tahun 10.000 SM-4000 SM, kira-kira tahun 7000 SM.

§Awalnya masyarakat Bacson-Hoabinh hanya menggunkan alat dari gerabah yang sederhana berupa serpihan-serpihan batu tetapi pada tahun 600 SM mengalami dalam bentuk batu-batu yang menyerupai kapak yang berfungsi sebagai alat pemotong. Bentuknya ada yang lonjong, segi empat, segitiga, dan ada yang berbentuk berpinggang. Ditemukan pula alat-alat serpih, batu giling dari berbagai ukuran, alat-alat dari tulang dan sisa-sisa tulang belulang manusia yang dikuburkan dalam posisi terlipat serta ditaburi zat warna merah.
§ Ditemukan dalam  penggalian di pegunungan batu kapur di daerah Vietnam bagian utara, yaitu di daerah Bacson pegunungan Hoabinh.
§ Istilah Bacson-Hoabinh digunakan sejak tahun 1920-an untuk menunjukkan tempat pembuatan alat-alat batu yang memiliki ciri dipangkas pada satu/ dua sisi permukaannya. Batu kali yang berukuran lebih kurang satu kepalan dan seringkali seluruh tepiannya menjadi bagian yang tajam. Ditemukan di seluruh wilayah Asia Tenggara, hingga Myanmar (Burma) di barat dan ke utara hingga propinsi-propinsi Selatan, antara 1800 dan 3000 tahun yang lalu.
§Di Indonesia, alat-alat dari kebudayaan Bacson-Hoabinh dapat ditemukan di daerah Sumatera, Jawa (lembah Sungai Bengawan Solo), Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Papua (Irian Jaya). Di Sumatera letaknya di daerah Lhokseumawe dan Medan.
§ Penyelidikan tentang persebaran kapak Sumatera dan kapak Pendek membawa kita melihat daerah Tonkin di Indocina dimana ditemukan pusat kebudayaan Prasejarah di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh yang letaknya saling berdekatan.
§ Alat-alat yang ditemukan di daerah tersebut menunjukkan kebudayaan Mesolitikum. Dimana kapak-kapak tersebut dikerjakan secara kasar. Terdapat pula kapak yang sudah diasah tajam, hal ini menunjukkan kebudayaan Proto Neolitikum. Diantara kapak tersebut terdapat jenis pebbles yaitu kapak Sumatera dan kapak pendek.
§ Mme Madeline Colani, seorang ahli prasejarah Perancis menyebutkan/ memberi nama alat-alat tersebut sebagai kebudayaan Bacson-Hoabinh. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Tonkin merupakan pusat kebudayaan Asia Tenggara. Dari daerah tersebut kebudayaan ini sampai ke Indonesia melalui Semenanjung Malaya (Malaysia Barat) dan Thailand.
§ Di Tonkin tinggal 2 jenis bangsa, yaitu Papua Melanosoid dan Europaeide. Selain itu ada jenis Mongoloid dan australoid.
1.      Bangsa Papua Melanosoid, merupakan bangsa yang daerah penyebarannya paling luas, meliputi Hindia Belakang, Indonesia hingga pulau-pulau di Samudera Pasifik. Bangsa ini memiliki kebudayaan Mesolitikum yang belum di asah (pebbles).
2.      Bangsa Mongoloid, merupakan bangsa yang memiliki kebudayaan yang lebih tinggi, yaitu proto-neolitikum (sudah diasah).
3.      Bangsa Austronesia, merupakan percampuran dari bangsa Melanesoid dan Europaeide. Pada zaman Neolitikum bangsa ini tersebar ke seluruh Kepulauan Indonesia.

B. BUDAYA DONG SON
o       Kebudayaan Dongson merupakan kebudayaan perunggu yang ada di Asia Tenggara. Daerah ini merupakan pusat kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Di daerah ini ditemukan segala macam alat-alat perunggu, alat-alat dari besi serta kuburan dari masa itu. Dongson adalah nama daerah di Tonkin, merupakan tempat penyelidikan yang pertama.
o       Diperkirakan kebudayaan ini berlangsung pada tahun 1500 SM-500 SM. Bertempat di kawasan Sungai Ma, Vietnam
o       Di daerah tersebut pada tahun 1920 ditemukan alat-alat perunggu diperkirakan berkaitan dengan kebudayaan Yunan, sebelah barat daya Cina, dan berbagai tempat di Indonesia. Meskipun benda-benda perunggu telah ada sebelum tahun 500 SM terdiri atas kapak corong (corong merupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya) dan ujung tombak, sabit bercorong, ujung tombok bertangkai, mata panah, dan benda-benda kecil lainnya.
o       Kebudayaan Dongson di Indonesia diwujudkan melalui berbagai hasil kebudayaan perunggu, nekara, dan alat besi. Di Indonesia nekara ditemukan di Selayar, Sulawesi Selatan. Di Bali ditemukan nekara yang terbesar yaitu di daerah Pejeng. Nekara merupakan perlengkapan upacara persembahan yang dilakukan masyarakat prasejarah, dimana pada nekara tersebut terdapat hiasan mengenai sistem kehidupan dan kebudayaan saat itu. Moko (sejenis nekara yang bentuknya lebih kecil) ditemukan di Pulau Alor. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan Indonesia merupakan salah satu bagian dari kebudayaan perunggu di Asia Tenggara.
o       Kurang lebih 56 Nekara dapat ditemukan di beberapa wilayah Indonesia dan terbanyak nekara ditemukan  di Sumatera, Jawa, dan Maluku Selatan.
o       Nekara yang penting ditemukan di Indonesia adalah nekara Makalaman dari Pulau Sangeang dekat Sumbawa dengan hiasan gambar orang-orang berseragam menyerupai pakaian dianasti Han (Cina)/ Kushan (India Utara)/ Satavahana (India Tengah)
o       Selain nekara ditemukan juga benda-benda  perunggu lainnya seperti patung-patung, peralatan rumah tangga, peralatan bertani maupun perhiasan-perhiasan.
o       Bagi Indonesia penemuan benda kebudayaan Dong Son sangat penting. Hal ini dikarenakan benda-benda logam yang ditemukan di wilayah Indonesia pada umumnya bercorak Dong Son, bukan  mendapat pengaruh budaya logam dari Cina maupun India.
o       Hal ini terlihat dari kesamaan corak hiasan dari bahan-bahan yang digunkan. Contoh: Nekara Tipe Heger I memiliki kesamaan dengan nekara yang paling bagus dan tua di Vietnam, dimana nekara ini memiliki lajur hiasan yang disusun mendatar bergambar manusia, hewan dan pola geometris.
o       Dari penemuan benda budaya Dong Son diketahui cara pembuatannya dengan menggunakn teknik cetak lilin.
o       Masa ini telah terjadi tukar menukar dan perdagangan antar masyarakat dengan alat-alat gerabah dari perunggu sebagai komoditi barter. Selain itu, sebagai objek dari simbol kemewahan dan alat-alat sakti yang dapat mendatangkan kekuatan gaib.
o       Kebudayaan Dongson sampai ke Indonesia melalui jalur Barat yaitu Semenanjung Malaya. Pembawa kebudayaan ini adalah  bangsa Austronesia.
o       Pendapat tentang kebudayaan Dongson, sampai kepulauan Indonesia terbagi dalam 2 tahap:
-   Zaman Neolithikum, berlangsung kurang lebih sejak 2000 SM, merupakan zaman batu tulis, zaman kebudayaan kapak persegi
-   Zaman Perunggu, kurang lebih sejak 500 SM, merupakan kebudayaan kapak sepatu, nekara, dan candrasa.
o       Penyebaran kebudayaan Dongson tersebut menyebabkan terbaginya kebudayaan di Indonesia menjadi 2, yaitu:
-   Kebudayaan Melayu Tua (Proto Melayu) di Masyarakat Dayak Pedalaman
-   Kebudayaan Melayu Muda (Deutero Melayu) di masyarakat Bali Aga dan Lombok

BUDAYA SA HUYNH
·Kebudayaan Sa Huynh diperkirakan berlangsung tahun 600 SM-1 M.
· Pada dasarnya merupakan kebudayaan yang mirip dengan Kebudayaan Dongson. Karena peralatan yang banyak dipakai dalam kebudayaan Sa Huynh adalah dari kebudayaan Dong Son.
· Budaya Sa Huynh ditemukan di kawasan pantai Vietnam Tengah ke Selatan sampai lembah sungai Mekong.
· Budaya Sa Huynh ada di Vietnam bagian Selatan didukung oleh suatu kelompok penduduk yang berbahasa Austronesia (Cham) yang diperkirakan berasal dari kepulauan Indonesia.
·Orang-orang Cham pernah mengembangkan peradaban yang dipengaruhi oleh budaya India Champa tetapi akhirnya dikalahkan oleh penduduk Vietnam sekarang yang hanya merupakan kelompok minoritas hingga sekarang.
· Orang-orang Cham merupakan kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa Austronesia dan mempunyai kedekatan kebangsaan dengan masyarakat yang tinggal di kepulauan Indonesia.
· Kebudayaan Sa Huynh diketahui melalui penemuan kubur tempayan (jenazah dimasukkan ke dalam tempayan besar). Penguburan tersebut adalah adat kebiasan yang dibawa oleh orang-orang Cham ke kepulauan Indonesia sebab penguburan dengan cara ini bukan merupakan budaya Dong Son maupun budaya yang lain.
· Kebudayaan dalam bentuk tempayan kubur yang ditemukan di Sa Huynh memiliki persamaan dengan tempayan kubur yang ditemukan di Laut Sulawesi.
· Kebudayaan Sa Huynh yang ditemukan meliputi berbagai alat yang bertangkai corong seperti sikap, tembilang, dan kapak. Namun ada pula yang tidak bercorong seperti sabit, pisau bertangkai, kumparan tenun, cincin, dan gelang berbentuk spiral.
·Teknologi pembutan peralatan besi yang diperkenalkan ke daerah Sa Huynh berasal dari daerah Cina. Benda perunggu yang ditemukan di daerah Sa Huynh berupa beberapa perhiasan, seperti gelang , lonceng, dan bejana-bejana kecil. Ditemukan pula manik-manik emas yang langka dan kawat perak serta manik-manik kaca dari batu agate bergaris dan berbagai manik-manik Carnelian (bundar, berbentuk cerutu). Ditemukan alat-alat dari perunggu seperti bejana kecil, selain itu terdapat gelang-gelang dan perhiasan-perhiasan
·Meskipun hubungan langsung dengan pusat-pusat pembuatan benda-benda perunggu di daerah Dong Son sangat terbatas terbukti dengan penemuan 7 buah nekara tipe Heger I di daerah Selatan Vietnam dari 130 nekara yang berhasil ditemukan hingga tahun 1990.
·Benda-benda perunggu yang tersebar ke wilayah Indonesia melalui 2 jalur, yaitu:
a.      Jalur darat : Muangthai dan Malaysia terus ke kepulauan Indonesia
b.      Jalur laut : Menyeberang lautan dan terus tersebar di daerah kepulauan Indonesia

manusia purba


Pleistosen
Bawah
Meganthropus palaeojavanicus
Pithecanthropus robustus
Pithecanthropus mojokertensis
Tengah
Pithecanthropus erectus
Atas
Homo soloensis
Homo wajakensis
Holosen
Homo sapiens

Meganthropus paleojavanicus


Meganthropus paleojavanicus

Jenis manusia ini dikenal dengan sebutan manusia purba raksasa dari jawa. Fosil ini ditemukan oleh ilmuan bernama Von Koeningswald pada 1941 di dekat desa Sangiran, Lembah sungai bengawan solo. Diduga mereka masih terlalu primitive dan hanya bisa mengumpulkan makan-makanan berupa  tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan.